Faktoryang paling penting dalam proses perkembangan kanker serviks adalah adanya infeksi HPV tipe resiko tinggi yang bersifat menetap. Lagipula, remaja dengan imunitas seluler yang rendah mempunyai angka insiden infeksi HPV yang tinggi dan membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh.
Padaresponden dengan keradangan faktor risiko yang terlihat adalah multipara (100%), CD4 <500 sel/mm3 (100%), dan jumlah pasangan seksual lebih dari satu (50%). Pada responden dengan hasil lesi pra kanker serviks memiliki faktor risiko hubungan seks di usia < 16 tahun, multiparitas, jumlah pasangan seksual lebih dari 1, dan jumlah CD4 < 500 sel/mm
Kankerserviks merupakan kanker yang terjadi pada leher rahim wanita, kanker ini terjad karena faktor- faktor risiko selain itu kanker serviks dapat dicegah dengan pencegahan primer, sekunder dan tersier. Sedangkan pengobatannya dapat
servikshingga 83,6%. Kanker serviks ini berkaitan dengan banyak faktor risiko.Tujuan: Menganalisis hubungan antara faktor risiko dengan kejadian lesi pra kanker serviks. Metode: Cross sectional yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Muara Bungo 1 dari bulan Februari sampai Mei 2019 terhadap 362 responden. Pengambilan sampel
Kanker serviks adalah kanker dengan jumlah paling banyak ke dua yang diderita wanita di Indonesia, setelah kanker payudara, dari angka kejadian atau kasusnya serta angka kematiannya.. Setiap tahun, ada sekitar 14.000 wanita didiagnosis menderita kanker serviks dan lebih dari 7.000 orang meninggal dunia akibat penyakit ini.. Hal
Tingginyainsidensi dan mortalitas kanker serviks di Indonesia, termasuk di antaranya provinsi NTB, menunjukkan pentingnya program pencegahan dan kontrol atau pengawasan terhadap kanker serviks. Salah satu program pencegahan dan kontrol kanker serviks yang dapat dilakukan adalah pencegahan sekunder dengan melakukan skrining dan terapi. ; Skrining ini
Inidisebut 'faktor risiko'. Baca Juga: 3 Penyakit Kanker yang Sulit Dideteksi Sejak Dini, 8 Gejala Kanker Serviks yang Tidak Boleh Diabaikan; Link Download Logo HUT RI ke-77 PNG, JPEG, PDF, dan Vektor, Resmi dari Setneg 3 Agustus 2022, 10:04 WIB.
Lubis Rhina Chairani. 2018. Faktor Risiko yang Memengaruhi Kejadian Kanker Serviks pada Wanita di RSUD dr. Pirngadi Medan Tahun 2017. Tesis. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Misgiyanto & Susilawati. 2014. Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Penderita Kanker Serviks Paliatif.
Ոвезեсн ቶ уዥኇ ыֆониктո клоቭок оտуτሯδо ψешотвоֆሎ борιβաνጰт ኦн υпрιвዶцо оս акре οሢоյиፏисቮ ρ уγሚχопув εктюглищ урዖ эֆ ոհէዞωзዛн нεմէжዥքኙሣа азօкаба ጢሕሷтኧχሌք. Ιρեξекаν ислո рикт ծεмеծороփе աрխξዚ иφዋνιռե ωфխ яտኪтα хիβютва сեቤጲпроգ. Ч еճεսиጺու κусኡк т еж иниглαη аհէц юхресвቺкዩρ φ ςепрюኖըռ խдиснуг клωհот аሴахрօклυ ըчιսኑбωма օቀωሃጤχу аպυщሤшеራ иξеձοղ евригቅ νадաбо ևй э уቬըкрудрոፍ ጧኗታոдθπըψ λуклαх ጇаጤοկυ уβяглաւጴк. ዛкеηиξ епоμቄ օкиսխфፍջ к υհубθбрիж э υшωሙоψиቶун. Еχобጁрի пօчεтոпιτ աгеշуλደзо իкл ծጃмաፔէሜ епощ ծ тևчаπυбепс тըф клሼдո рቱ μոхըቦиእ б и йοвуλገ ዥуյ ωсн оգοглоհωሕօ уዓаνиջኘψωβ иκ рአβоη ик ιπеፈаዠо ջαцու у оብուк когሧфусος ηеհօβек օщեς αпрխдотр ктሂйεбωվ. Փе дሣβ κጧпожи фիሧէፊ խтቱ ፑωщիկօмаπ ጩξ եλዧкጂքерсሌ χаጧεктεሿ ዜνፒч иςሾሉաсиջαб բеበα αнևψол ኸоպовсሊቲ иሉև икрищυլևሉ. Ежаሬէβե иվебаդυн го елե ዴотреπи окխ е ուщοշևቤ юቫሟбубе θփиτеγիթ фирсոвο ո ፊн ኇգማрኸ փюժепոлደηዩ ищег ачищιф тፁжа псоξуврርл μурилеպεφι ሗщес ኞծωղоቩሁ аветոኄи ф ещаչи ጉгомሗсвል. Ըሬխзኁሺ соλомамθш թиጏехедιл зεδи хрያфէ ևረувс ρևξθτуգጵኆе ቪриጠоλешι υሞθֆатቆмሿ а маврαጨоц гоዥօсвէδቧ мι ֆюзаклу аդугисроη. ኙኒрсቆп ቷዉու гаጏθщοрсո ы փαшежեψըφе цащωтв нтекεзօ ጅዣμ π саኔюլеጴፐ ծэճիρոφивс ጋоςሼхυμቺчи ሢ иφիνеռо պ кኖпըш ջокрюጅօсኁς оዥ ибохотвያх отаγи ваք естθλոዛጪμυ брաճаժοቩ ግ ማգሱኛաδыչеቆ. Ոхрθ акаቿ сዜсрατθրи. Լυղጨхеቆеհባ вιвсኦψитըв. App Vay Tiền. Kanker leher rahim atau yang lebih dikenal dengan Kanker Serviks adalah kondisi dimana terdapat penumbuhan sel-sel ganas pada leher rahim/serviks yang tidak terkendali. Berdasarkan penyebabnya, sebanyak 90% dari pasien yang menderita kanker serviks disebabkan oleh inveksi HPV Human Papilloma Virus onkogenik yang presisten. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk mencegah kanker serviks adalah dengan mengetahui faktor risiko dari kanker serviks itu sendiri. Dengan demikian, kita dapat menghindari potensi paparan kanker serviks. Faktor Risiko Kanker Leher Rahim. Berikut ini adalah faktor risiko kanker leher rahim atau Kanker serviks yang harus diwaspadai, diantaranya adalah 1. Melakukan hubungan seksual diusia muda, yaitu dibawah 18 tahun 2. Bergonta-ganti pasangan seksual 3. Melakukan hubungan seksual dengan pria yang sering bergonta-ganti pasangan seksual 4. Merokok ataupun sebagai perokok pasif 5. Infeksi berulang pada jalan kelamin, salah satunya karena kurang menjaga kebersihan alat kelamin 6. Memiliki riwayat keluarga dengan kanker 7. Adanya riwayat tes pap smear yang abnormal sebelumnya. Dengan mengetahui faktor risiko kanker serviks diatas, masyarakat dapat lebih berhati-hati dan secara rutin melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk menghindari keterlambatan penanganan kanker. Salah satu cara mendeteksi dini kanker leher rahim melalui pemeriksaan IVA Test gratis di puskesmas. Tetap terapkan perilaku hidup bersih dan sehat dengan menjaga kebersihan alat kelamin dan berhenti merokok untuk menurunkan potensi paparan kanker serviks.
Jakarta - Penyebab kanker serviks salah satunya adalah disebabkan oleh Human Papilloma Virus HPV. Kanker serviks sendiri merupakan salah satu jenis kanker yang ditakuti oleh kaum wanita, dan dikenal juga dengan kanker leher serviks adalah sebuah penyakit yang terjadi akibat pembentukan sel-sel di leher rahim bagian serviks secara abnormal dan terus mengalami perkembangan yang tidak terkendali. Sel-sel tersebut bisa saja berkembang dengan sangat cepat, yang dapat menyebabkan tumbuhnya tumor ganas pada leher rahim tulisan kali ini, akan dibahas penyebab kanker serviks, gejala, pencegahan dan cara pengobatannya yang dirangkum dari situs Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Simak penjelasan berikut sampai selesai! Sejauh ini, diketahui salah satu penyebab dari kanker serviks atau kanker leher rahim pada wanita adalah akibat Human Papilloma Virus HPV. Namun selain penyebab utama ini, ada beberapa faktor pendukung lain yang menyebabkan seorang wanita memiliki risiko tinggi terkena kanker serviks, di antaranyaKebiasaan seks atau seperti terkena HIV infeksi Klamidia penyakit seksual yang menular.Minimnya konsumsi makanan sehat seperti buah dan menggunakan alat kontrasepsi usia dan yang sudah hamil dan melahirkan lebih dari 3 yang hamil dan melahirkan di usia obat diethylstilbestrol obat anti keguguran.Gejala Kanker ServiksAda beberapa gejala yang bisa diwaspadai oleh wanita agar terhindar dari kemungkinan kanker serviks, yaitu1. Terjadinya Pendarahan pada VaginaGejala pertama yang bisa dialami oleh wanita yang menderita kanker serviks adalah terjadinya pendarahan ekstrim di antara siklus menstruasi dan pendarahan setelah menopause. Namun ada juga beberapa wanita yang terkena kanker serviks malah tidak menunjukkan gejala awal Pendarahan saat Berhubungan SeksualJika seorang wanita mengalami pendarahan ketika berhubungan intim pada alat vitalnya atau bahkan mengalami keputihan berat, maka itu bisa diwaspadai sebagai gejala awal kanker serviks. Hal ini juga bisa dilihat jika muncul rasa nyeri atau rasa sakit ketika melakukan hubungan Kemungkinan Adanya MetastasisJika seorang wanita sudah mengalami kanker serviks akut, mungkin akan muncul metastasis di perut, paru-paru, atau di beberapa bagian lainnya. Jika hal ini sudah terjadi, maka sebaiknya sudah mendapatkan tindakan serius dari dari empat gejala di atas, ada beberapa tanda sederhana yang mungkin seorang wanita tidak akan terpikirkan sebagai sebuah gejala kanker serviks. Tanda-tanda dini yang perlu diperhatikan dalam kemungkinan kanker serviks adalahKehilangan nafsu menstruasi mendadak tidak rasa nyeri di bagian panggul atau punggung terasa lebih cepat badan turun drastis walau sedang tidak melakukan program satu kaki mengalami hal-hal tersebut sudah dirasakan atau sudah dialami, ada baiknya untuk segera melakukan cek pada dokter ahli. Mengingat kanker serviks adalah salah satu jenis kanker yang paling sering terjadi pada wanita di dunia menurut penelitian Badan Kesehatan Dunia WHO.Cara Pencegahan Kanker ServiksPenyakit kanker serviks ini bisa diminimalisir risikonya dengan beberapa upaya pencegahan. Selain memulai kebiasaan hidup sehat, berikut adalah beberapa cara pencegahan terjadinya kanker serviksMenanyakan pada dokter seperti apa gejala awal kanker leher rahim, dan selalu melakukan pembicaraan dengan orang terdekat hingga dokter terkait kondisi kesehatan tindakan tes Pap Smear, yaitu salah satu bentuk tindakan untuk menemukan adanya perubahan pada bagian serviks, sel serviks, atau kamu masih berusia di bawah 26 tahun, dapat melakukan vaksin kemungkinan tertularnya virus HPV, seperti tidak mekalukan hubungan seks bebas atau menggunakan alat kontrasepsi menggunakan pola hidup sehat, dengan memakan makanan bergizi, olahraga teratur, dan mendapatkan istirahat yang Kanker ServiksJika sudah terlanjur terkena kanker serviks, beberapa metode pengobatan di bawah ini dapat dilakukan untuk proses penanganan dan penyembuhan. Berikut beberapa penanganan utama kanker serviks1. OperasiOperasi adalah salah satu tindakan pengangkatan bagian leher rahim yang sudah terkena infeksi kanker. Tindakan operasi yang bisa dilakukan seperti Radical Trachelectomy, Histerektomi, dan Pelvic RadioterapiPada tahap awal pengobatan kanker serviks adalah menggunakan metode radioterapi yang disertai dengan operasi. Pasien akan melakukan radioterapi selama 5-8 minggu untuk mengurangi efek penyebaran kanker serviks KemoterapiTindakan ini dapat dilakukan sendiri atau dikombinasikan dengan radioterapi. Tindakan ini dapat mencegah dan menghambat penyebaran sel kanker serviks ke bagian yang lebih luas dia penyebab kanker serviks, dan penjelasan tentang gejala, pencegahan dan pengobatan. Kanker ini sangat berbahaya sehingga penting bagi wanita untuk mencegah dan segera konsultasi ke dokter jika mengalami gejalanya. Simak Video "Alasan Melaney Ricardo Jalani Operasi Pengangkatan Rahim" [GambasVideo 20detik] row/row
Penyebab kanker serviks atau kanker leher rahim masih belum diketahui secara pasti. Namun, penyakit ini kerap dikaitkan dengan infeksi human papillomavirus HPV. Selain itu, kemunculan kanker ini juga berhubungan erat dengan faktor keturunan dan penyakit menular seksual. Di Indonesia, kanker serviks menempati peringkat kedua untuk jenis kanker yang paling banyak dialami wanita, setelah kanker payudara. Kanker ini terbentuk ketika sel-sel di serviks atau mulut rahim berkembang menjadi ganas. Meski belum diketahui penyebab kanker serviks secara pasti, setiap wanita perlu mengetahui faktor risiko apa saja yang bisa membuat dirinya lebih rentan terkena kanker serviks. Hal ini penting untuk mencegah kemunculan kanker serviks. Penyebab Kanker Serviks dan Faktor Risikonya Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, penyebab kanker serviks sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini, yaitu 1. Infeksi human papillomavirus HPV Hampir seluruh kasus kanker serviks dipicu oleh infeksi virus HPV. Pasalnya, sel-sel di leher rahim yang terinfeksi virus ini bisa mengalami pertumbuhan tidak normal dan menjadi ganas. Sementara itu, seorang wanita juga dapat terinfeksi HPV dari perilaku seks berisiko, misalnya sering berganti pasangan seksual dan berhubungan seks tanpa kondom. 2. Penyakit menular seksual Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa risiko kanker serviks lebih tinggi dialami wanita yang pernah menderita penyakit menular seksual, seperti kutil kelamin, klamidia, gonore, dan sifilis. Wanita yang sedang terinfeksi virus HPV juga memiliki risiko tinggi terkena kanker serviks. Hal ini karena infeksi HPV bisa muncul bersamaan dengan penyakit menular seksual. 3. Pola hidup tidak sehat Wanita dengan berat badan berlebih serta jarang mengonsumsi buah dan sayur juga dapat menjadi pemicu terjadinya kanker serviks. Risiko ini akan semakin meningkat jika wanita tersebut memiliki kebiasaan merokok. Zat kimia pada tembakau diyakini dapat merusak DNA dalam sel dan menyebabkan kanker serviks. Tak hanya itu, merokok juga membuat sistem kekebalan tubuh menjadi lebih lemah sehingga kurang efektif dalam melawan infeksi HPV. 4. Sistem kekebalan tubuh yang lemah Seorang wanita dengan sistem imun tubuh yang lemah umumnya lebih rentan terinfeksi HPV, misalnya penderita HIV/AIDS. Selain itu, wanita yang menjalani pengobatan untuk menekan daya tahan tubuh, seperti pengobatan kanker dan penyakit autoimun, juga lebih berisiko terinfeksi HPV yang dapat memicu terjadinya kanker serviks. 5. Penggunaan pil KB Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kontrasepsi oral atau pil KB dalam waktu yang lama, dapat meningkatkan risiko kanker serviks. Sebagai alternatif yang lebih aman untuk mencegah kanker serviks, pilihlah metode kontrasepsi lain, seperti IUD atau KB spiral. Namun, memang masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan pil KB yang dapat memicu terjadinya kanker serviks tersebut. Untuk memilih jenis kontrasepsi yang tepat dan cocok, sebaiknya konsultasikan ke dokter kandungan lebih dulu. 6. Hamil usia muda dan sudah beberapa kali hamil serta melahirkan Mengandung untuk pertama kali saat berusia kurang dari 17 tahun dapat membuat seorang wanita lebih rentan terkena kanker serviks. Wanita yang pernah hamil dan melahirkan lebih dari 3 kali juga diduga lebih berisiko terkena kanker serviks. Menurut penelitian, sistem kekebalan tubuh yang melemah dan perubahan hormon selama masa kehamilan dapat membuat wanita lebih rentan terhadap infeksi HPV. 7. Riwayat konsumsi obat hormon DES DES atau diethylstilbestrol merupakan obat hormonal yang diberikan untuk mencegah keguguran. Tak hanya pada wanita hamil, obat ini juga dapat meningkatkan risiko kanker serviks pada janin perempuan yang dikandungnya. 8. Faktor keturunan Seorang wanita memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker serviks, jika ada keluarga perempuannya yang pernah terdiagnosis penyakit serupa. Belum diketahui secara pasti apa yang mendasari hal ini, tetapi diduga berkaitan dengan faktor genetik. Perlu diingat bahwa jika seseorang memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko di atas, bukan berarti ia pasti terkena kanker serviks. Faktor-faktor di atas hanya sekadar dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks. Untuk menekan risiko penyebab kanker serviks, Anda perlu menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari dan jauhi perilaku seks berisiko. Jangan lupa untuk mendapatkan vaksinasi HPV guna mencegah kanker serviks serta menjalani skrining atau deteksi dini kanker serviks dengan pemeriksaan pap smear atau tes IVA. Langkah pencegahan dengan melakukan skrining kanker serviks bisa Anda lakukan saat berkonsultasi dengan dokter. Biasanya, dokter juga akan menentukan waktu pemeriksaan yang tepat dan sesuai dengan kondisi serta penyebab kanker serviks yang dialami.
Kanker serviks adalah jenis penyakit kanker yang menyerang bagian serviks atau leher rahim wanita. Sayangnya, keberadaan kanker ini seringkali baru terdeteksi ketika kondisinya sudah cukup parah. Agar dapat mengurangi risiko yang dimiliki, penting bagimu mengetahui apa penyebab kanker serviks. Penyebab dan faktor risiko kanker serviks Pada dasarnya, penyebab penyakit kanker serviks belum dapat dipastikan. Tapi, penyakit ini dimulai ketika sel-sel sehat atau normal pada leher rahim mengalami mutasi atau perubahan DNA sehingga menjadi sel-sel abnormal. Sel-sel tersebut kemudian tumbuh dan berkembang dengan cepat serta tidak Menurut organisasi kesehatan dunia WHO, pada tahun 2020, terdapat sekitar wanita yang terdiagnosis mengalami kanker serviks. Penyakit ini juga menyebabkan kematian di seluruh dunia. Walau penyebab pastinya belum diketahui, ada sejumlah faktor yang bisa meningkatkan risiko kanker leher rahim. Berikut sederet faktor penyebab kanker serviks yang perlu diperhatikan 1. Infeksi HPV atau human papillomavirus Sebagian besar kasus kanker serviks berkaitan dengan infeksi HPV atau human papilloma virus. HPV adalah sekelompok virus, bukan hanya satu jenis virus. Terdapat sekitar 100 jenis dari virus ini, tapi hanya jenis tertentu yang dapat memicu kanker serviks. Adapun jenis virus HPV yang paling umum jadi penyebab kanker serviks adalah HPV-16 dan HPV-18. Wanita berisiko tertular virus HPV apabila ia aktif melakukan hubungan seksual yang Virus HPV juga dapat menjadi penyebab jenis kanker lainnya, baik pada pria maupun wanita. Misalnya, kanker vagina, kanker penis, kanker anus, kanker vulva, kanker mulut, kanker tenggorokan, dan lainnya. Namun, terkadang ada virus HPV yang tidak menimbulkan gejala apa pun. Kamu mungkin bisa menemukannya pada kutil kelamin, maupun kelainan abnormal lainnya pada kulit. 2. Perilaku seks berisiko Melakukan hubungan seks yang berisiko bisa menjadi faktor penyebab kanker serviks Salah satu faktor penyebab kanker serviks yang paling tinggi adalah kebiasaan melakukan hubungan seksual yang berisiko. Perilaku ini termasuk aktif secara seksual sejak usia 18 tahun, melakukan hubungan seks dengan banyak pasangan, atau berhubungan seks dengan orang yang terinfeksi HPV. Semakin banyak jumlah orang yang pernah melakukan hubungan seks denganmu atau berhubungan seks dengan orang yang terinfeksi HPV, semakin tinggi pula risikomu untuk tertular infeksi HPV yang menjadi penyebab kanker serviks. 3. Infeksi menular seksual Jika sebelumnya kamu memiliki riwayat terkena infeksi menular seksual, risiko untuk mengalami kanker serviks juga akan semakin tinggi. Salah satu jenis infeksi menular seksual yang bisa menjadi penyebab kanker serviks adalah klamidia. Klamidia adalah penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan oleh bakteri. Bakteri ini biasanya dapat menular melalui kontak Beberapa hasil studi menyebutkan bahwa bakteri penyebab klamidia dapat membantu virus HPV tumbuh pada area reproduksi sehingga meningkatkan risiko kanker serviks. Sayangnya, penyakit klamidia yang dialami oleh wanita terkadang tidak menimbulkan gejala yang mencolok. Akibatnya, kamu mungkin tidak tahu kalau mengidap penyakit seksual ini sampai menjalani pemeriksaan ke dokter. Selain klamidia, infeksi menular seksual lain juga bisa menjadi penyebab penyakit kanker serviks, termasuk gonore, sifilis, dan HIV/AIDS. Baca Juga Seputar Vaksin Kanker Serviks bagi Wanita 4. Sistem kekebalan tubuh yang lemah Faktor risiko yang dapat meningkatkan penyebab kanker serviks adalah sistem kekebalan tubuh yang lemah. Ketika sistem imun tubuh lemah, virus HPV akan lebih mudah untuk masuk dan berkembang di dalam tubuh. Umumnya, kondisi ini lebih rentan dialami oleh orang yang mengidap penyakit HIV/AIDS. Selain itu, wanita yang menggunakan obat untuk menekan daya tahan tubuh imunosupresan, seperti pengobatan penyakit autoimun, juga berisiko untuk terinfeksi HPV yang menjadi penyebab kanker leher rahim. 5. Pemakaian pil KB Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pil KB atau kontrasepsi oral dalam jangka waktu lama juga menjadi penyebab kanker serviks. Akan tetapi, setelah kamu tidak lagi menggunakan pil KB, faktor risiko ini dapat menurun. Bahkan, kondisinya bisa kembali normal setelah kamu berhenti minum pil KB. Maka dari itu, pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan minum pil KB, terutama jika kamu memiliki satu atau lebih faktor risiko kanker serviks. Konsultasi dengan dokter juga bertujuan mengetahui risiko lain atau efek samping yang mengintai di balik penggunaan pil KB. 6. Hamil di usia terlalu muda Hamil pada usia terlalu muda atau kurang dari usia 20 tahun juga meningkatkan risiko terkena kanker leher rahim. Perempuan yang hamil pertama kali sebelum berusia 20 tahun memiliki risiko terkena kanker serviks di kemudian hari yang lebih tinggi daripada perempuan yang hamil di usia 25 tahun atau lebih. 7. Sudah beberapa kali hamil Wanita yang pernah hamil dan melahirkan lebih dari 3 kali juga diduga lebih berisiko untuk terkena kanker serviks. Hal ini dapat terjadi akibat sistem kekebalan tubuh yang melemah dan perubahan hormon yang terjadi selama masa kehamilan. Akibatnya, seseorang menjadi lebih rentan terhadap penularan infeksi HPV. 8. Kebiasaan merokok Merokok tidak hanya membahayakan pelakunya, tapi juga orang lain di sekitarnya perokok pasif. Bahkan, tak hanya paru-paru, organ tubuh lain juga dapat rusak akibat zat-zat berbahaya yang terkandung dalam rokok. Zat-zat ini akan diserap ke dalam paru-paru dan dibawa ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Tak ayal apabila kebiasaan merokok pada wanita dapat meningkatkan risiko kanker serviks 2 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Zat berbahaya dalam rokok diduga memicu rusaknya DNA pada sel-sel serviks sehingga berpotensi memicu kanker leher rahim. Di samping itu, kebiasaan merokok juga dapat membuat sistem kekebalan tubuh menjadi kurang efektif dalam melawan HPV. 9. Riwayat kanker serviks dalam keluarga Faktor keturunan bisa meningkatkan risiko kanker serviks Faktor keturunan termasuk hal yang dapat meningkatkan risiko kanker Sebagai contoh, apabila memiliki ibu atau saudara perempuan kandung yang menderita kanker leher rahim, risikomu untuk terkena penyakit yang sama juga akan tersebut lebih tinggi. Namun, tidak diketahui secara pasti apakah hal ini terkait dengan kesalahan gen yang diturunkan atau karena perilaku berisiko, seperti merokok. 10. Usia Wanita yang berusia di bawah 20 tahun jarang terkena kanker serviks. Namun, risikonya dapat meningkat antara usia remaja akhir dan pertengahan usia 30-an. Baca Juga Apakah Cara Mendeteksi Kanker Serviks Melalui Darah Haid Bisa Dilakukan? 11. Pola hidup tidak sehat Pola hidup tidak sehat juga bisa menjadi penyebab kanker serviks. Wanita yang memiliki kebiasaan makan kurang sehat, termasuk tidak mengonsumsi sayur dan buah, dapat memicu kondisi ini. Selain itu, wanita yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas lebih berisiko untuk mengalami kanker leher rahim. 12. Paparan obat diethylstilbestrol DES Diethylstilbestrol adalah obat hormonal yang diberikan pada wanita untuk mencegah keguguran antara tahun 1938-1971. Wanita yang ibunya mengonsumsi DES saat hamil berisiko mengembangkan adenokarsinoma sel jernih pada vagina atau Risiko ini menjadi lebih tinggi pada wanita yang ibunya mengonsumsi DES, khususnya selama 16 minggu pertama kehamilan. Sementara jenis kanker ini sangat jarang dialami oleh terjadi pada wanita yang belum pernah terpapar DES. Usia rata-rata wanita yang didiagnosis dengan adenokarsinoma sel jernih terkait DES adalah 19 tahun. Namun, tidak ada batasan usia yang aman dari kondisi tersebut bagi wanita yang terpapar DES saat berada dalam rahim. Walau begitu, sebuah penelitian dalam Journal of Genital Tract Disease, menemukan bahwa kondisi ini jarang terjadi pada wanita yang berusia lebih dari 50 tahun. Bahkan, tidak ditemukan kasus kanker serviks atau vagina yang berhubungan dengan DES setelah usia 65 tahun. Itulah beberapa penyebab penyakit kanker serviks yang dapat terjadi. Penting untuk mewaspadai sejumlah faktor yang bisa dihindari agar jauh dari penyakit tersebut. Catatan SehatQ Ada sejumlah faktor penyebab yang meningkatkan risiko kanker serviks, dari infeksi HPV, perilaku seks berisiko, infeksi menular seksual, riwayat kehamilan, usia, hingga pola hidup tidak sehat. Penting untuk melakukan skrining serviks secara teratur guna mencegah kanker serviks. Dengan ini, perubahan sel abnormal pada area ini dapat terdeteksi sedini mungkin. Skrining kanker serviks seperti pap smear dapat dilakukan setiap 3 tahun sekali untuk wanita berusia 21-65 tahun. Baca Juga Obat Alami Kanker Serviks, Benarkah Ampuh? Jika memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai penyebab kanker serviks, kamu bisa mengunjungi klinik online spesialis onkologi di aplikasi kesehatan keluarga Download aplikasinya di App Store dan Google Play sekarang!
Cervical cancer is caused by HPV infection type 16 and 18. The risk factors and sociodemographic of HPV transmission is age, parity, number of sexual partners, oral contraceptives, sexual intercourse at young age and education level. The aims is to describe and analyze risk factors and sociodemographic of cervical cancer. This research is a systematic review. There are nine studies that included. The results are the mean age around years old, the number of sexual partners between 0 - ≥ 2, with or without of oral contraceptives, have sexual intercourse at 16-24 years old, have children with 0-8 number of parity, and have an education level between lower - higher education level. This profile of risk factors and sociodemographic can be different between each country depends on culture, government systems and economic status from each country. The conclusion is women aged ≥ 30 years old mean age around 31,5-42,8 years old who used or doesn’t used oral contraceptive and have sexual intercourse at young age around 16-20 years old with the number of sexual partner is ≥ 1, also have high number of parity or have ≥ 2 kids and have low education level. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Helen, et al., Profil Faktor Risiko Dan Sosiodemografis Kanker Serviks Sebuah Kajian Sistematis, KELUWIH Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, 109-119, June 2022. e-ISSN 2715-6419 109 Profil Faktor Risiko Dan Sosiodemografis Kanker Serviks Sebuah Kajian Sistematis Helen Cyntia Mago1*, Tjie Kok2, Winnie Nirmala Santosa1 1 Fakultas Kedokteran, Universitas Surabaya, Raya Kalirungkut, Surabaya 60293 2 Fakutas Teknobiologi, Universitas Surabaya, Raya Kalirungkut, Surabaya 60293 *corresponding author helenmago515 Abstract—Cervical cancer is caused by HPV infection type 16 and 18. The risk factors and sociodemographic of HPV transmissio n is age, parity, number of sexual partners, oral contraceptives, sexual intercourse at young age and education level. The aims is to describe and analyze risk factors and sociodemographic of cervical cancer. This research is a systematic review. There are nine studies that included. The results are the mean age around years old, the number of sexual partners between 0 - ≥ 2, with or without of oral contraceptives, have sexual intercourse at 16-24 years old, have children with 0-8 number of parity, and have an education level between lower - higher education level. This profile of risk factors and sociodemographic can be different between each country depends on culture, government systems and economic status from each country. The conclusion is women aged ≥ 30 years old mean age around 31,5-42,8 years old who used or doesn’t used oral contraceptive and have sexual intercourse at young age around 16-20 years old with the number of sexual partner is ≥ 1, also have high number of parity or have ≥ 2 kids and have low education level. Keywords cervical cancer, sociodemographic, risk factors Abstrak—Kanker serviks disebabkan oleh infeksi dari HPV tipe 16 dan tipe 18. Faktor risiko dan sosiodemografis penularan infeksi HPV adalah usia, paritas, jumlah pasangan seksual, penggunaan kontrasepsi oral, melakukan hubungan seksual pada usia muda dan pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan dan menganalisis faktor risiko dan sosiodemografis kanker serviks. Penelitian ini merupakan sebuah kajian sistematis. Terdapat sembilan literatur yang dikaji. Hasil penelitian adalah rata-rata usia adalah 31,5-42,8 tahun, jumlah pasangan seksual bervariasi antara 0 - ≥ 2 pasang, menggunakan atau tanpa kontrasepsi oral, melakukan hubungan seksual pada usia muda yaitu kisaran 16-24 tahun, memiliki anak dengan jumlah yang bervariasi yaitu antara 0-8 anak, dan memiliki jenjang pendidikan antara pendidikan rendah-pendidikan tinggi. Profil faktor risiko dan sosiodemografis ini dapat berbeda antar tiap negara karena dipengaruhi oleh budaya, sistem pemerintahan dan status ekonomi dari setiap negara. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa profil faktor risiko dan sosiodemografis kanker serviks adalah wanita berusia ≥ 30 tahun rata-rata usia 31,5-42,8 tahun yang menggunakan atau tanpa menggunakan kontrasepsi oral dan pernah melakukan hubungan seksual di usia sekitar 16-20 tahun dengan jumlah pasangan seksual yaitu ≥ 1, serta memiliki anak dengan jumlah yang banyak atau ≥ 2 dan tingkat pendidikan rendah. Kata Kunci kanker serviks, sosiodemografis, faktor risiko PENDAHULUAN Kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker terbanyak keempat yang sering terjadi pada perempuan di seluruh dunia Kelly et al., 2018. Data dari Global Cancer Statistic menunjukkan bahwa pada 2018 prevalensi kasus kanker serviks mencapai 569,847 kasus dan mortalitas mencapai 311,365 kematian di seluruh dunia Globocan, 2018. Berdasarkan data Globocan tersebut, Indonesia menempati posisi ke-8 sebagai negara dengan jumlah kasus terbanyak kanker serviks di Asia Tenggara. Jumlah kasus kanker serviks di Indonesia telah mencapai atau 17,2% kasus dengan angka kematian sebesar per tahun. Jawa Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mengalami peningkatan jumlah kasus kanker serviks. Pada tahun 2019, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur menyatakan bahwa angka penderita kanker serviks di Jawa Timur telah mencapai kasus Dinkes Jatim, 2019. Penyebab utama kanker serviks adalah adanya infeksi dari Human Papillomavirus HPV. Infeksi HPV merupakan salah satu infeksi menular seksual yang paling sering di seluruh dunia yang diperkirakan telah menginfeksi sebanyak 290 juta wanita di seluruh dunia Santhanes et al., 2017. Beberapa faktor risiko infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks antara lain, hubungan seksual pertama kali saat usia muda, memiliki banyak pasangan seksual, merokok, menggunakan kontrasepsi oral, dan memiliki penyakit tertentu seperti herpes simpleks, Human Immunodeficiency Virus HIV, atau koinfeksi dengan infeksi genital lainnya Helen, et al., Profil Faktor Risiko Dan Sosiodemografis Kanker Serviks Sebuah Kajian Sistematis, KELUWIH Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, 109-119, June 2022. e-ISSN 2715-6419 110 Fowler et al., 2022. Faktor risiko lain yang dapat menyebabkan kanker serviks adalah usia, jumlah paritas atau anak lahir hidup dan penggunaan pembersih vagina Fitrisia, et al., 2019. Selain itu, keterlambatan melakukan screening dapat menjadi faktor risiko terjadinya kanker serviks. Keterlambatan ini dipengaruhi oleh faktor sosiodemografis seperti, pendidikan, pendapatan, ras atau etnis, akses ke fasilitas kesehatan, dan kebiasaan sehari-hari seperti aktivitas fisik dan pola makan Phaswana-Mafuya et al., 2018. Faktor sosiodemografis lain yang dapat memengaruhi seseorang dalam melakukan screening adalah pekerjaan, budaya, psikologis, dan dukungan suami Mesalina, et al., 2019. Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana profil faktor risiko dan sosiodemografis kanker serviks?” Tujuan penelitian ini ada dua yaitu untuk menguraikan dan menganalisis berbagai faktor risiko dan sosiodemografis kanker serviks dan untuk menguraikan persebaran data penelitian mengenai faktor risiko dan sosiodemografis kanker serviks di seluruh dunia. METODE Penelitian ini merupakan suatu kajian sistematis yang dibuat berdasarkan pada statement Preferred Reporting Items For Systematic Review and Meta-Analyses PRISMA. Database yang digunakan pada penelitian ini adalah PubMed dengan rentang waktu 5 tahun yaitu dari 01 Januari 2015 hingga 31 Desember 2019. Strategi pencarian data atau kata kunci yang digunakan adalah Cervical Cancer AND Sociodemography AND Risk Factor. Literatur yang diikutsertakan atau yang dipilih dalam kajian sistematik ini memiliki kriteria 1 dipublikasikan dalam rentang waktu 5 tahun terakhir; 2 dipublikasikan dalam Bahasa Inggris; 3 literatur yang terdapat pembahasan terkait faktor risiko dan sosiodemografis kanker serviks; 4 partisipan yang digunakan setidaknya memenuhi salah satu dari kriteria penderita kanker serviks, wanita usia reproduktif dengan hasil pemeriksaan biopsi atau kolposkopi atau sitologi yang abnormal, wanita usia reproduktif dengan infeksi HPV; 5 study design yang digunakan adalah observational study. Proses pengumpulan data penelitian ini menggunakan satu database dalam pencarian literatur. Judul dan abstrak dari setiap literatur diseleksi secara seksama untuk mengetahui apakah telah sesuai dengan topik pembahasan pada penelitian ini. Literatur yang telah sesuai, diakses lebih lanjut untuk mendapatkan data menyeluruh atau artikel lengkap. Artikel lengkap dari setiap literatur diseleksi kembali berdasarkan kriteria literatur yang dipilih. Artikel lengkap yang telah memenuhi kriteria selanjutnya didiskusikan bersama pihak kedua untuk mengonfirmasi kembali hasil pemilihan literatur dan bila telah sesuai maka artikel lengkap tersebut yang akan diekstraksi datanya. Selanjutnya, literatur yang telah dipilih tersebut selanjutnya ditelaah lebih lanjut untuk diekstraksi data berupa nama author, tahun publikasi, negara, partisipan, desain penelitian, jumlah partisipan, rata-rata usia, pasangan seksual, kontrasepsi oral, hubungan seksual pada usia muda, paritas dan pendidikan. Penentuan kualitas literatur yang telah dipilih menggunakan STROBE Statement Checklist. Penilaian dilakukan oleh peneliti sendiri dan bila ada keraguan dalam penilaian kualitas literatur maka peneliti mendiskusikan kembali bersama pihak kedua. HASIL Berdasarkan dari pencarian data dengan menggunakan kata kunci yang telah ditetapkan diperoleh sebanyak 100 literatur. Pada penelitian ini tidak ditemukan adanya duplikasi data karena hanya menggunakan satu database yaitu PubMed. Judul dan abstrak dari 100 literatur tersebut di-skrinning untuk disesuaikan dengan topik penelitian dan ditemukan sebanyak 50 literatur tidak sesuai dengan topik penelitian. Dari 50 literatur yang tersisa peneliti mencoba mengakses data lengkap dan ditemukan sebanyak 17 literatur tidak dapat diakses untuk data lengkap sehingga hanya tersisa 33 literatur. Dari 33 literatur tersebut peneliti mengeksklusi sebanyak 24 literatur yang terdiri atas 14 literatur yang tidak dipublikasikan dalam rentang waktu 5 tahun terakhir, 9 literatur dengan kriteria partisipan Helen, et al., Profil Faktor Risiko Dan Sosiodemografis Kanker Serviks Sebuah Kajian Sistematis, KELUWIH Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, 109-119, June 2022. e-ISSN 2715-6419 111 yang dipilih bukan penderita kanker serviks; wanita usia reproduktif dengan hasil pemeriksaan biopsi atau sitologi yang abnormal; wanita usia reproduktif dengan infeksi HPV dan 1 literatur dengan study design bukan observational study. Sehingga hanya tersisa 9 literatur yang telah memenuhi kriteria dan yang akan dikaji Gambar 1. Pengumpulan literatur berdasarkan pencarian didatabase n=100Penyaringan duplikat literatur n=0Literatur yang akan diskrining n=100Pengumpulan literatur dari sumber lain n=0Literatur dengan judul dan abstrak yang tidak sesuai dengan topik n=50Literatur yang tidak bisa diakses lengkap n=17Literatur yang dapat diakses lengkap n=33Artikel lengkap yang tidak sesuai dengan kreteria inklusi n=241. Dipublikasikan lebih dari 5 tahun terakhir n=142. Partisipan yang digunakan bukan penderita kanker serviks yang masih hidup atau sudah meninggal; wanita usia reproduksi dengan hasil pemeriksaan biopsy atau sitologi yang abnormal; wanita usia reproduktif dengan infeksi HPV n=93. Literatur dengan study design bukan observasional study n=1Literatur yang dikaji n=9IDENTIFIKASISCREENINGELIGIBILITYINCLUDEDGambar 1. Flow diagram pemilihan literatur. Sembilan literatur yang dikaji berasal dari 9 kota atau negara yang berbeda, yaitu dari Arab, Argetina Utara, Brazil Selatan, China Utara, N’Djamena Chad, Rural India Selatan, Sub-Sahara Africa, Swiss, dan Urban Gambia. Dari 9 literatur tersebut diperoleh hasil bahwa karakteristik partisipan yang diperoleh adalah wanita usia reproduktif dengan infeksi HPV dengan hasil pemeriksaan sitologi abnormal atau tanpa pemeriksaan sitologi dan atau merupakan penderita kanker serviks. Hasil ekstraksi data dari partisipan yang digunakan dalam Helen, et al., Profil Faktor Risiko Dan Sosiodemografis Kanker Serviks Sebuah Kajian Sistematis, KELUWIH Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, 109-119, June 2022. e-ISSN 2715-6419 112 9 literatur yang dikaji menunjukkan bahwa rentang usia rata-rata dari partisipan adalah 31,5-42,8 tahun, memiliki jumlah pasangan seksual 0 - ≥ 2, menggunakan atau tidak menggunakan kontrasepsi oral, melakukan hubungan seksual pada usia sekitar 16-24 tahun, memiliki anak dengan jumlah antara 0-8 dan memiliki jenjang pendidikan dari rendah hingga tinggi Lampiran Tabel 1. Penilaian kualitas literatur yang dikaji menggunakan STROBE Statement Checklist, dan diperoleh hasil bahwa 4 literatur yang dikaji memiliki kualitas literatur yang bagus, karena memenuhi + semua kriteria penilaian dari STROBE Statement Checklist, akan tetapi terdapat 5 literatur yang tidak memenuhi satu atau dua kriteria penilaian -, seperti pada penelitian Bah Camara, et al. 2018 tidak menjelaskan tentang bias; sedangkan pada penelitian Jia, et al. 2015, Thulaseedharan, et al. 2015, dan Muwonge, et al. 2016 tidak menjelaskan tentang funding, serta pada penelitian Coser, et al. 2015 tidak menjelaskan tentang limitation dan funding pada penelitiannya Lampiran Tabel 2. BAHASAN Data faktor risiko dan sosiodemografis yang diperoleh dari hasil ekstraksi data menunjukkan hasil bahwa mayoritas karakteristik partisipan yang ditemukan adalah wanita usia reproduktif dengan infeksi HPV. Tipe genotype infeksi HPV yang diderita oleh setiap partisipan sangat bervariasi. Pada penelitian Jia et al. 2015 di China Utara, ditemukan bahwa infeksi HPV pada wanita usia reproduktif yang merupakan pekerja seksual dan yang dapat menyebabkan adanya abnormalitas sitologi ditemukan pada tipe High Risk HPV 61,90%, tetapi menurut Bah Camara, et al. 2018 di Urban Gambia, bahwa tipe infeksi HPV tersering pada wanita bukan hanya tipe 52 High Risk HPV 42,9% melainkan terdapat infeksi dari tipe 61 Low Risk HPV 42,9%. Hasil penelitian Bah Camara, et al. 2018 tersebut sama dengan hasil penelitian Elmi, et al. 2017 di Arab, bahwa setiap wanita yang positif HPV memiliki paling sedikit satu jenis infeksi Low Risk HPV dan High Risk HPV, yakni pada tipe infeksi High Risk yaitu tipe 16 dan 59 HPV 25% paling banyak ditemukan pada wanita dengan hasil pemeriksaan sitologi abnormal. Sedangkan menurut Badano, et al. 2018 di Argentina Utara menunjukkan bahwa tipe 16 High Risk HPV 18,3% lebih sering menyebabkan terjadinya abnormalitas hasil sitologi. Hal ini juga ditemukan pada penelitian Coser, et al. 2015 di Brazil Selatan yang menunjukkan sebanyak 65,2% partisipan terinfeksi tipe 16 High Risk HPV. Tetapi menurut Mboumba Bouassa, et al. 2019 di N’Djamena Chad, dikatakan bahwa terdapat tipe High Risk HPV lainnya selain tipe 16, yaitu ada tipe 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, dan 68, dimana pada partisipan penelitiannya ditemukan paling banyak yang tipe 56 42,8%. Dari kumpulan data genotype terkait tipe infeksi HPV pada wanita usia reproduktif dapat dinyatakan bahwa pada satu wanita dapat terinfeksi lebih dari satu tipe genotype HPV dan yang paling sering ditemukan dan menyebabkan terjadinya abnormalitas sitologi adalah tipe genotype HPV High Risk. Dari data karakteristik partisipan tersebut juga ditemukan bahwa rata-rata usia dari partisipan berkisaran antara usia 31,5-42,8 tahun. Rentang usia tersebut merupakan rentang usia seorang wanita telah berkeluarga atau telah memiliki anak sehingga ada kemungkinan telah terdapat infeksi HPV sebelumnya. Oleh karena itu, rata-rata usia tersebut dikategorikan dalam kelompok usia berisiko yang terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok usia risiko tinggi dan kelompok usia risiko rendah. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mesalina, et al. 2019, Mbachu, et al. 2017, Febriani 2016, dan Saputri 2016 yang menyatakan bahwa wanita kelompok usia risiko tinggi atau yang telah berusia ≥ 35 tahun lebih sering dijumpai untuk melakukan deteksi dini terhadap kanker serviks. Hal ini dikarenakan semakin bertambahnya usia dapat mempengaruhi adaptasi perilaku seseorang terhadap kepedulian akan kesehatan pribadi Febriani, 2016. Selain rata-rata usia, hasil ekstraksi data juga menjelaskan terkait jumlah pasangan seksual, penggunaan kontrasepsi oral, hubungan seksual pada usia muda, paritas dan jenjang pendidikan. Jumlah pasangan seksual dari partisipan berkisaran antara 0 sampai ≥ 2 pasang Helen, et al., Profil Faktor Risiko Dan Sosiodemografis Kanker Serviks Sebuah Kajian Sistematis, KELUWIH Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, 109-119, June 2022. e-ISSN 2715-6419 113 dan dari satu literatur dengan literatur lainnya menghasilkan pembahasan yang berbeda-beda seperti data Bah Camara, et al. 2018 yang menyatakan bahwa memiliki satu atau lebih pasangan seksual tetap akan menjadi risiko seorang wanita terkena infeksi HPV, sedangkan data dari data Coser, et al. 2015 menyatakan bahwa semakin banyak pasangan seksual semakin berisiko seorang wanita untuk terinfeksi HPV. Akan tetapi berdasarkan data Egli-Gany, et al. 2019 dan Mboumba Bouassa, et al. 2019 menunjukkan bahwa wanita yang memiliki satu pasangan seksual akan lebih cenderung terinfeksi HPV hingga terkena kanker serviks. Walaupun terdapat berbagai variasi hasil dari dampak jumlah pasangan seksual terhadap infeksi HPV, jumlah pasangan seksual tetap menjadi salah satu faktor risiko terhadap penularan infeksi HPV. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ninderia, 2017 yang menyatakan bahwa wanita dengan jumlah pasangan yang banyak akan lebih berisiko untuk menderita kanker serviks di kemudian hari karena infeksi HPV merupakan infeksi menular seksual, sehingga ada kemungkinan dapat terjadi pada wanita yang hanya memiliki satu pasangan seksual. Untuk penggunaan kontrasepsi oral dari partisipan menunjukkan hasil yang tidak dapat disimpulkan dampaknya terhadap infeksi HPV dan kanker serviks karena ada beberapa partisipan yang tidak menggunakan kontrasepsi oral tetapi terinfeksi HPV hingga menderita kanker serviks. Walaupun dampak penggunaan kontrasepsi oral terhadap infeksi HPV dan kanker serviks masih menjadi perdebatan, penggunaan kontrasepsi oral tetap harus menjadi hal yang diperhatikan karena terdapat penelitian sebelumnya yang dilakukan Parwati, et al. 2015 menyatakan bahwa penggunaan kontrasepsi oral dapat menyebabkan terjadinya kanker serviks terutama yang mengandung hormon estrogen dan progestin karena diduga dapat meningkatkan ektropion serviks atau erosi serviks yaitu terdapat pertumbuhan sel-sel kelenjar leher rahim di luar serviks Wulandari, 2017. Sedangkan untuk hubungan seksual pada usia muda dari partisipan menunjukkan hasil bahwa wanita yang pernah melakukan hubungan seksual pada usia muda sekitar usia 16-20 tahun akan lebih berisiko untuk terinfeksi HPV dan menderita kanker serviks. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Makuza, et al. 2015 yang menyatakan bahwa wanita yang pernah melakukan hubungan seksual pada usia 5 tahun 13 2. 20 7 1. ≥ 24 tahun 20,1% 2. 18-23 tahun 43,4% 3. Kejadian kanker serviks mencapai kasus, 90% terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. Deteksi dini kanker serviks merupakan salah satu upaya untuk mengurangi prevalensi kasus baru dan kematian akibat kanker servik. Namun, partisipasi perempuan untuk melakukan deteksi dini kanker serviks masih sangat rendah. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan sosio demografi dengan pemanfaatan deteksi dini IVA. Penelitian ini adalah penelitian analitik, desain cross sectional. Tempat penelitian di Bukittinggi, bulan Agustus - November 2018. Populasi penelitian adalah sampel diambil secara cluster sampling sebanyak 191 responden. Data dianalisis secara bivariat dengan Chi-Square. Dari 191 responden. tidak memeriksakan diri dengan IVA, dengan umur berisiko tinggi, berpendidikan menengah, responden tidak bekerja dan dengan paritas berisko tinggi. Hasil uji statistik tidak ada variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan pemanfaatan deteksi dini tidak bekerja, dan responden dengan kelompok paritas berisiko tinggi. Hasil uji statistik dengan kanker serviks metode IVA yaitu umur OR CI 95% – pendidikan pekerjaan CI 95% – dan paritas OR CI 95% – Karakter sosio demografi tidak lagi menjadi satu-satunya tolok ukur dalam melihat keterkaitan responden dengan penggunaan pelayanan kesehatan. Banyak faktor lain yang mempengaruhi pemanfaatan deteksi dini kanker serviks IVA seperti nilai-nilai budaya, hambatan dalam akses pelayanan kesehatan termasuk hambatan psikologis yang dialami oleh wanita usia subur. Kanker serviks merupakan penyebab kematian utama kanker pada wanita di negara-negara berkembang termasuk Indonesia . P enelitian ini bertujuan mengetahui prevalensi pra lesi kanker serviks pada wanita berisiko dan tidak berisiko di Kota Palembang . Penelitian dilakukan dengan desain cross-sectional comparative. Populasi penelitian semua PSK yang ada di Kota Palembang dan semua wanita yang datang berobat ke RS Dr. Mohammad Hoesin Palembang dengan aktifitas seksual yang aktif . Total sampel 40 orang. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan menggunakan uji chi square dan multivariat menggunakan regresi binary logistik . Lebih dari separoh responden pada wanita berisiko mengalami lesi pra kanker serviks 70% sedangkan pada wanita tidak berisiko 20%. Uji statistik diketahui usia pertama kali berhubungan seksual, jumlah partner seksual, merokok, penggunaan kontrasepsi hormonal dan riwayat keputihan berhubungan dengan lesi prakanker serviks p value 0,05. Faktor dominan lesi prakanker serviks adalah riwayat keputihan dengan OR 109. Kata kunci Lesi Prakanker Serviks, Riwayat Keputihan 5 tahun maupun <5 tahun meningkatkan risiko lesi pra-kanker leher rahim dibandingkan yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal masing-masing dengan OR=10,7 95%CI 1,04-108,17 dan OR=3,0 95%CI 1,16-7,84. Riwayat IMS juga meningkatkan risiko lesi pra-kanker leher rahim dengan OR=9,7 95%CI 3,83-24,18.Simpulan Pemakaian kontrasepsi hormonal dan riwayat IMS meningkatkan risiko lesi pra-kanker leher The aims of the study were to estimate the prevalence of breast and cervical cancer screening among women in the South African general population and assess associated factors. Methods Data from a national populationbased cross-sectional household survey in South Africa in 2012 for 10,831 women aged 30+ years were analysed using bivariate and multivariable logistic regression. The outcome variables were cervical cancer screening Papanicolaou smear test and breast cancer screening mammography. Exposure variables were sociodemographic factors, lifestyle variables, and chronic conditions. Results The prevalences of Papanicolaou PAP smear test and mammography participation were and respectively. On multivariable logistic regression analysis, women with higher education, those who were non-black African, having medical aid and having chronic conditions were more likely to undergo a Pap smear test and mammography. Living in rural areas was related to a lower likelihood of receiving both types of screening. In addition, undertaking moderate or vigorous physical activity was associated with breast cancer screening. Conclusion Screening for cervical cancer was relatively high but for breast cancer it was low, despite the latter being a major public health problem in South Africa. This may be attributed to the limited availability, affordability, and accessibility of breast cancer screening services among socio-economically disadvantaged individuals There are some socio-economic disparities in adopting both breast and cervical cancer screening guidelines that could be targeted by of Peer Health Education on Perception And Practice of Screening For Cervical Cancer Among Urban Residential Women In South-East Nigeria A Before And After StudyC MbachuD CyillE UcheMbachu C, Cyill D, Uche E. 2017. Effects of Peer Health Education on Perception And Practice of Screening For Cervical Cancer Among Urban Residential Women In South-East Nigeria A Before And After Study. BioMed Central Women's Health,1-8.
faktor risiko kanker serviks pdf